Sebuah ungkapan yang manis, yang biasa dihadiahkan seorang pria pada kekasih wanitanya. Dan dapat dibayangkan betapa bahagianya seorang wanita yang menerima tanda cinta berupa bunga. Begitupun saya…
Selama 6 tahun pernikahan saya sudah seringkali mendapat hadiah bunga. Padahal suami saya bukanlah orang yang romantis. Saya memang tidak memperoleh bunga itu dari suami, melainkan dari orang lain. Orang ketiga yang telah mengisi hati saya. Menempati ruang yang sebelumnya telah diisi oleh suami saya. Seorang lelaki yang begitu istimewa, romantis dan lebih tampan dari suami saya.
Darinya hadiah bunga tersebut sangat sering saya dapatkan. Memang bukan bunga-bunga yang mahal harganya, ataupun yang luar biasa indahnya. Melainkan bunga-bunga sederhana, namun bagi saya sangat cantik karena menunjukkan betapa lelaki ini menyayangi dan memperhatikan saya.
Bunga yang dikirimnya kadang hanya bunga-bunga liar, atau bunga padi-padian, atau bunga yang tumbuh di halaman rumah saya. Pernah juga sekuntum mawar cantik yang ternyata dipetiknya dari tanaman seseorang, yang akhirnya membuat si pemilik marah ketika menyadari mawar-nya hilang.
Caranya menghadiahkan bunga tersebut bagi saya juga teramat mengesankan. Kadang dia meletakkannya di samping laptop diatas meja kerja saya, kadang di atas meja rias kamar saya, bahkan tak jarang dia menyematkan langsung di daun telinga atau di lipatan jilbab saya.
Sungguh, sebagai seorang wanita saya sangat bahagia setiap kali bunga-bunga itu singgah. Menunjukkan bahwa saya adalah orang yang berarti baginya, wanita yang selalu diingatnya, dan semuanya membawa saya melayang setinggi cakrawala.
Bunga-bunga cantik nan sederhana itu sampai ke tangan saya melalui sebuah tangan yang mungil. Sambil setengah berlari, dengan raut wajah ceria, lelaki itu menghampiri dengan sekuntum bunga di tangannya seraya berucap, “Ini hadiah bunga buat Ummi. Naufal sayang Ummi.”
Tangan kecil itu adalah milik malaikat kecil saya. Yang lahir dari rahim saya 5 tahun yang lalu. Yang kini dengan candanya atau nakalnya kerap membuat hati saya ramai oleh berbagai macam rasa. Dia hampir tak pernah lupa membawa hadiah bunga setiap kali pulang sehabis bermain di luar rumah. Bahkan disaat saya baru saja memarahinya, dan kemarahan itu menguap seketika oleh senyuman tulusnya.
Alhamdulillah, sebuah anugerah yang tak henti saya syukuri, Allah telah menitipkan harta berharga ini pada saya. Seorang anak yang berhati lembut, walaupun dengan kelembutannya itu terkadang dia menjadi begitu perasa. Mudah-mudahan saya bisa tetap menjaga kelembutan itu tetap berada disana, di dalam hatinya. Sampai kelak suatu masa, dimana ada seorang wanita lain yang akan sama bahagianya dengan saya ketika menerima hadiah istimewa sekuntum bunga darinya.
Selama 6 tahun pernikahan saya sudah seringkali mendapat hadiah bunga. Padahal suami saya bukanlah orang yang romantis. Saya memang tidak memperoleh bunga itu dari suami, melainkan dari orang lain. Orang ketiga yang telah mengisi hati saya. Menempati ruang yang sebelumnya telah diisi oleh suami saya. Seorang lelaki yang begitu istimewa, romantis dan lebih tampan dari suami saya.
Darinya hadiah bunga tersebut sangat sering saya dapatkan. Memang bukan bunga-bunga yang mahal harganya, ataupun yang luar biasa indahnya. Melainkan bunga-bunga sederhana, namun bagi saya sangat cantik karena menunjukkan betapa lelaki ini menyayangi dan memperhatikan saya.
Bunga yang dikirimnya kadang hanya bunga-bunga liar, atau bunga padi-padian, atau bunga yang tumbuh di halaman rumah saya. Pernah juga sekuntum mawar cantik yang ternyata dipetiknya dari tanaman seseorang, yang akhirnya membuat si pemilik marah ketika menyadari mawar-nya hilang.
Caranya menghadiahkan bunga tersebut bagi saya juga teramat mengesankan. Kadang dia meletakkannya di samping laptop diatas meja kerja saya, kadang di atas meja rias kamar saya, bahkan tak jarang dia menyematkan langsung di daun telinga atau di lipatan jilbab saya.
Sungguh, sebagai seorang wanita saya sangat bahagia setiap kali bunga-bunga itu singgah. Menunjukkan bahwa saya adalah orang yang berarti baginya, wanita yang selalu diingatnya, dan semuanya membawa saya melayang setinggi cakrawala.
Bunga-bunga cantik nan sederhana itu sampai ke tangan saya melalui sebuah tangan yang mungil. Sambil setengah berlari, dengan raut wajah ceria, lelaki itu menghampiri dengan sekuntum bunga di tangannya seraya berucap, “Ini hadiah bunga buat Ummi. Naufal sayang Ummi.”
Tangan kecil itu adalah milik malaikat kecil saya. Yang lahir dari rahim saya 5 tahun yang lalu. Yang kini dengan candanya atau nakalnya kerap membuat hati saya ramai oleh berbagai macam rasa. Dia hampir tak pernah lupa membawa hadiah bunga setiap kali pulang sehabis bermain di luar rumah. Bahkan disaat saya baru saja memarahinya, dan kemarahan itu menguap seketika oleh senyuman tulusnya.
Alhamdulillah, sebuah anugerah yang tak henti saya syukuri, Allah telah menitipkan harta berharga ini pada saya. Seorang anak yang berhati lembut, walaupun dengan kelembutannya itu terkadang dia menjadi begitu perasa. Mudah-mudahan saya bisa tetap menjaga kelembutan itu tetap berada disana, di dalam hatinya. Sampai kelak suatu masa, dimana ada seorang wanita lain yang akan sama bahagianya dengan saya ketika menerima hadiah istimewa sekuntum bunga darinya.
a
ReplyDelete