Friday, 11 December 2009

Making Love Out Of Nothing At All

Rating:
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Air Supply
I know just how to whisper,
and I know just how to cry;
I know just where to find the answers;
and I know just how to lie.
I know just how to fake it,
and I know just how to scheme;
I know just when to face the truth,
and then I know just when to dream.
And I know just where to touch you,
and I know just what to prove;
I know when to pull you closer,
and I know when to let you loose.
And I know the night is fading,
and I know that time's gonna fly;
and I'm never gonna tell you everything
I've got to tell you,
but I know I've got to give it a try.
And I know the roads to riches,
and I know the ways to fame;
I know all the rules
and then I know how to break 'em
and I always know the name of the game.

But I don't know how to leave you,
and I'll never let you fall;
and I don't know how you do it,
making love out of nothing at all
(Making love)
out of nothing at all,
(making love)
out of nothing at all,
(making love)
out of nothing at all,
(making love)
out of nothing at all,
(making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all.

Every time I see you all the rays of the sun
are streaming through the waves in your hair;
and every star in the sky is taking aim
at your eyes like a spotlight,
The beating of my heart is a drum, and it's lost
and it's looking for a rhythm like you.
You can take the darkness from the pit of the night
and turn into a beacon burning endlessly bright.
I've got to follow it, 'cause everything I know, well it's nothing till I give it to you.

I can make the run or stumble,
I can make the final block;
And I can make every tackle, at the sound of the whistle,
I can make all the stadiums rock.
I can make tonight forever,
Or I can make it disappear by the dawn;
And I can make you every promise that has ever been made,
And I can make all your demons be gone.

But I'm never gonna make it without you,
Do you really want to see me crawl?
And I'm never gonna make it like you do,
Making love out of nothing at all.

(Making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all
(making love)
out of nothing at all
(making love)

Thursday, 10 December 2009

flying without wings-lyrics

Rating:
Category:Music
Genre: Pop
Artist:westlife
Flying Without Wings

Everybody's looking for that something
One thing that makes it all complete
You find it in the strangest places
Places you never knew it could be

Some find it in the face their children
Some find it in their lovers eyes
Who can deny the joy it brings
When you find that special thing
You're flying without wings

Some find it in the sharing every morning
Some in their solitary lives
You findit in works of others
A simple line can make you laugh or cry

You find it in the deepest friendships
The kind you cherish all your life
And when you know how much that means
You've found that special thing
You're flying without wings

So impossible as they may seem
You've got to fight for every dream
'Cause who's to know
Which one you let go
Would have made you complete

Well for me it's waking up beside you
To watch the sun rise on your face
To know that i can say i love you
At any given time or place
It's little thing that only i know
Those are things that make you mine
And it's like flying without wings
'Cause you're my special thing
I'm flying without wings
You're the place my life begins
And you'll be where it ends
I'm flying without wings
And that's the joy you bring
I'm flying without wings

Thursday, 3 December 2009

say it with flowers

Sebuah ungkapan yang manis, yang biasa dihadiahkan seorang pria pada kekasih wanitanya. Dan dapat dibayangkan betapa bahagianya seorang wanita yang menerima tanda cinta berupa bunga. Begitupun saya…

Selama 6 tahun pernikahan saya sudah seringkali mendapat hadiah bunga. Padahal suami saya bukanlah orang yang romantis. Saya memang tidak memperoleh bunga itu dari suami, melainkan dari orang lain. Orang ketiga yang telah mengisi hati saya. Menempati ruang yang sebelumnya telah diisi oleh suami saya. Seorang lelaki yang begitu istimewa, romantis dan lebih tampan dari suami saya.

Darinya hadiah bunga tersebut sangat sering saya dapatkan. Memang bukan bunga-bunga yang mahal harganya, ataupun yang luar biasa indahnya. Melainkan bunga-bunga sederhana, namun bagi saya sangat cantik karena menunjukkan betapa lelaki ini menyayangi dan memperhatikan saya.
Bunga yang dikirimnya kadang hanya bunga-bunga liar, atau bunga padi-padian, atau bunga yang tumbuh di halaman rumah saya. Pernah juga sekuntum mawar cantik yang ternyata dipetiknya dari tanaman seseorang, yang akhirnya membuat si pemilik marah ketika menyadari mawar-nya hilang.

Caranya menghadiahkan bunga tersebut bagi saya juga teramat mengesankan. Kadang dia meletakkannya di samping laptop diatas meja kerja saya, kadang di atas meja rias kamar saya, bahkan tak jarang dia menyematkan langsung di daun telinga atau di lipatan jilbab saya.
Sungguh, sebagai seorang wanita saya sangat bahagia setiap kali bunga-bunga itu singgah. Menunjukkan bahwa saya adalah orang yang berarti baginya, wanita yang selalu diingatnya, dan semuanya membawa saya melayang setinggi cakrawala.
Bunga-bunga cantik nan sederhana itu sampai ke tangan saya melalui sebuah tangan yang mungil. Sambil setengah berlari, dengan raut wajah ceria, lelaki itu menghampiri dengan sekuntum bunga di tangannya seraya berucap, “Ini hadiah bunga buat Ummi. Naufal sayang Ummi.”

Tangan kecil itu adalah milik malaikat kecil saya. Yang lahir dari rahim saya 5 tahun yang lalu. Yang kini dengan candanya atau nakalnya kerap membuat hati saya ramai oleh berbagai macam rasa. Dia hampir tak pernah lupa membawa hadiah bunga setiap kali pulang sehabis bermain di luar rumah. Bahkan disaat saya baru saja memarahinya, dan kemarahan itu menguap seketika oleh senyuman tulusnya.

Alhamdulillah, sebuah anugerah yang tak henti saya syukuri, Allah telah menitipkan harta berharga ini pada saya. Seorang anak yang berhati lembut, walaupun dengan kelembutannya itu terkadang dia menjadi begitu perasa. Mudah-mudahan saya bisa tetap menjaga kelembutan itu tetap berada disana, di dalam hatinya. Sampai kelak suatu masa, dimana ada seorang wanita lain yang akan sama bahagianya dengan saya ketika menerima hadiah istimewa sekuntum bunga darinya.

450 GRAM

Rating:
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Christine Gleason, MD.
Membaca buku ‘450 gram’ karya dokter Chris Gleason, sungguh menyentuh hati saya. Padahal baru saja menginjak bab 6, dan seakan ragu untuk melanjutkan. Karena saya tak sanggup terus membaca kisah-kisah mengharukan tentang bayi dan anak-anak yang mengalami berbagai masalah kesehatan begitu komplitnya. Dunia seakan berbatas dinding bagi mereka. Tak ada bayang-bayang asa di garis batas cakrawala dunia mereka.

Dari beberapa lembar di bab awal saya menemukan kisah beberapa orang bayi, diantaranya prematur dan yang lainnya adalah bayi mature, atau full-term born baby, atau bayi lahir cukup bulan, yang terlahir dalam kondisi membawa kelainan kongenital (bawaan sejak lahir) atau mengalami gangguan saat persalinan sehingga menimbulkan gangguan pada salah satu atau beberapa fungsi organnya.

Ada pula anak-anak yang awalnya terlahir sehat, atau mungkin diduga sehat padahal mengidap kelainan bawaan, atau memang sejak lahir terus bolak-balik ke rumah sakit untuk dirawat, yang berjuang untuk penyakit mereka. Ada yang berakhir sehat, tak sedikit yang berujung kematian.

Beberapa catatan berhasil saya tangkap dan tuliskan dalam halaman microsoft word saya, dimana saya melihat dari berbagai sisi manusia yang terlibat di dalamnya, yang kesemuanya ternyata berhubungan dengan realita dalam kehidupan saya pribadi.

Sisi pertama: DOKTER

Dalam hal ini adalah Christine Gleason, MD., penulis sekaligus tokoh sentral dalam buku ‘spektakuler’ (kalau boleh saya menyebutnya begitu) ini.
Perjuangannya menyelamatkan jiwa-jiwa kecil yang baru saja lahir ke dunia sungguh merupakan perjuangan luar biasa. Saya menyebut mereka jiwa yang baru lahir, karena semuanya masih sangat muda, jauh dibanding saya.

Secara umum, seorang dokter yang sungguh-sungguh menjalankan profesi, di tangannya banyak nyawa manusia bergantung. Mereka datang ke Rumah Sakit atau tempat praktik seorang dokter karena ke-awam-an mereka terhadap kondisi yang dialami si sakit tersebut, mungkin anak, suami, istri, orang tua, kerabat atau dirinya sendiri. Harapannya diserahkan pada dokter, yang dianggap mampu meringankan, menyembuhkan bahkan menyelamatkan hidup si sakit.

Seorang dokter, dengan kelebihan ilmu yang dimilikinya sedapat mungkin menangani beragam kasus dihadapannya. Semua bukan semata demi honorarium yang akan dia peroleh, namun demi rasa kemanusiaan menolong sesama.

Memang begitulah seharusnya.

Walaupun terkadang sisi kemanusiaan seorang dokter seringkali juga diabaikan oleh pasien-pasiennya. Misalnya bahwa dokter juga manusia yang tak luput dari alpa dan dosa; dokter juga membutuhkan istirahat, hak tubuhnya agar pikirannya kembali segar sehingga lebih optimal menangani pasien; dokter juga butuh dihargai, bahwa disaat dia sedang melakukan tugasnya, berhak tidak diganggu atau dirusak konsentrasinya. Serta hal-hal lain yang berhak didapatkan dokter.

Namun saya juga tidak menafikkan jika pada kenyataannya banyak juga dokter “abal-abal” yang merawat pasien hanya demi uang. Tidak mempunyai empati dan tidak sesuai dengan standar profesi serta melanggar sumpah jabatan mereka.

Na’udzubillah mindzaliik. Mudah-mudahan saya tidak termasuk yang demikian.

Kembali pada dokter Gleason dengan pasien-pasiennya. Beliau dengan naluri kemanusiaan berusaha mengungkapkan serentetan tanggung jawabnya sebagai seorang residen Pediatri dalam menangani berbagai kasus yang kadang benar-benar baru dia temukan saat itu. Betapa hatinya juga bekerja mengikuti bahasa tubuh dan kerja otaknya. Hingga tak jarang dia menangis tersedu-sedu atau bahkan ingin melarikan diri dari profesinya. Sungguh menyentuh hati.
***


Dokter, profesi yang oleh beberapa orang masih dianggap sebagai “Dewa”, yang dianggap orang pintar (dalam arti sebenarnya). Mampu mengusir “masalah” dari tubuh manusia (teringat cerita Mr. Bean yang mendatangi klinik dokter untuk membuka teko yang menyangkut di pergelangan tangannya... memangnya dokter punya gergaji atau peralatan pertukangan???). Yang tak boleh melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Sebab sebuah kesalahan berarti tindakan malpraktik, yang berujung di meja hijau.

Sekali lagi saya katakan bahwa dokter adalah manusia biasa (kalau boleh dinyanyikan a’la Seurieus Band... dokter juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan si dukun saktiiiii....yeaah). Dan sebenarnya apapun profesi kita, tak hanya dokter, harus bekerja sesuai kompetensinya masing-masing. Memberikan yang terbaik, dengan satu kata kunci... i k h l a s.

Jadi teringat seorang tokoh film bernama dokter House, dalam film “House” (yang tayang di channel AXN, waktunya nggak hapal karena saya nonton film ini hanya saat menginap di hotel ;-P). Seorang dokter unik, walaupun eksentrik dan sering menuai protes rekan-rekan sejawatnya dalam menangani kasus pasien-pasiennya. Namun satu point of view yang saya suka, dokter House tidak pernah puas akan sebuah diagnosa “tanggung”. Dia akan terus mencari dan mengobservasi pasien-pasiennya secara detail, bahkan kejanggalan dalam kedipan mata pun tak luput dari perhatiannya.

Itulah mungkin yang tidak banyak dimiliki oleh dokter-dokter kita (mungkin termasuk saya..hiks), kecuali dokter rumah sakit pendidikan. Bahkan ada dokter yang merasa cukup menegakkan diagnosa hanya berbekal satu atau dua kali anamnesa saja. Dan ini pernah saya alami saat memeriksakan bayi saya ke salah satu dokter spesialis anak. Meski pengetahuan saya tentang ilmu pediatri minim, tapi saya tidak bodoh-bodoh amat untuk bisa “dibodohi” dengan diagnosa seadanya dan pulang dengan membawa 1 botol antibiotik dan 1 botol vitamin. Padahal saya paham, kondisi anak saya tidak membutuhkan antibiotik (saat itu dia mengalami konstipasi kronis).

Mengutip sebuah bab yang saya baca dalam buku “Blink” karya Malcolm Gladwell, ada secuplik bahasan yang menarik tentang profesi dokter. Wendy Levinson, seorang peneliti bidang kedokteran, melakukan penelitian terhadap dua kelompok sampel dokter, melalui rekaman pembicaraan dokter-pasien. Levinson menemukan bahwa satu kelompok dokter tersebut tidak pernah digugat kasus hukum sedangkan kelompok lainnya pernah dituntut sekurangnya dua kali.

Dokter yang tidak pernah digugat ini ternyata mau menyediakan waktu 3 menit lebih lama untuk mendengarkan dan menjawab pasien-pasiennya. Mereka mendengar secara aktif dan banyak tertawa serta melucu selama pemeriksaan. Walau ternyata tidak ada perbedaan dalam hal mutu atau kadar informasi yang diberikan kepada pasien. Tidak juga lebih rinci soal obat atau kondisi pasien, hanya berbeda cara penyampaian informasi.

Hal ini memang penting dalam hubungan dokter – pasien, karena kadang seorang pasien “secara sugesti” langsung merasa lebih baik begitu menerima senyuman tulus tim medis yang menolongnya, atau sapaan hangat, atau tatapan penuh empati. Betul nggak?

Dan kembali pada buku 450 gram (beloknya kejauhan ya...hehe), merupakan suatu usaha cantik yang telah dilakukan dokter Chris Gleason. Meskipun pasien-pasiennya tidak bisa membalas senyumannya, belum bisa bertanya perihal penyakitnya atau mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.


Sisi kedua: ORANG TUA

Bagi orang tua manapun, excluding yang mengalami gangguan jiwa dan retardasi akhlaq, mempunyai anak adalah anugerah yang tak dapat dilukiskan oleh kosakata terindah manapun. Karena begitu, teramat, sangat luar biasanya. Menyentuh kulit mereka saat baru dilahirkan, menyusui, merawat, membesarkan sungguh merupakan pengorbanan sekaligus kebahagiaan tersendiri. Menyaksikan mereka tumbuh setahap demi setahap, langkah kaki pertama mereka, kata pertama yang mereka ucapkan, seakan tak pernah hilang dari rekaman memori orangtua sepanjang hayatnya.

Sejak si anak berada dalam kandungan, interaksi orangtua (terutama ibu) sudah dilakukan untuk membuat bayinya bahagia. Apalagi ketika bayi itu hadir dihadapan. Tak akan tergantikan oleh emas berlian seluas apapun, karena seorang anak merupakan buah cinta... bukankah cinta tidak bisa diperjualbelikan pula. Saat anak kita lahir, seperti apapun rupanya, secantik atau seburuk apapun penampilannya, tak akan menyurutkan cinta kasih orangtua.

Sebagian kisah dalam buku ini, melukiskan perjuangan orangtua yang dihadapkan pada kondisi bahwa anaknya terlahir diluar harapan. Ada yang terlahir prematur, dimana organ tubuhnya belum sempurna fungsinya untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan selain rahim ibunya. Akhirnya si buah hati yang sejatinya ingin langsung berada dalam dekapan, disusui sepuas mungkin, dibelai kelembutannya, semua pupus sudah. Karena bayi itu harus langsung masuk ruang isolasi dalam Neonatal Intensive Care Unit (NICU), yang hanya bisa disentuh melalui lubang kaca inkubator. Belum lagi daftar penyakit yang mengancam hidupnya.

Para orangtua ini dipaksa menyaksikan bayi-bayi merah mereka menerima infus, suntikan beragam obat-obatan, spinal tap/lumbar puncture (penusukan tulang lumbar/ruas-ruas tulang belakang, untuk mendapatkan contoh cairan tulang belakang), suprapubic bladder tap (penyedotan urine langsung dari kandung kemih), resusitasi (tindakan mengembalikan kesadaran) dan sebagainya.

Saya pun punya pengalaman pada kedua anak saya. Keduanya pernah dirawat di rumah sakit dan menerima infus, bahkan anak pertama saya pernah mengalami tranfusi darah saat usianya baru sebulan. Sungguh, menyaksikan tubuh-tubuh kecil yang sangat kita cintai menderita oleh penyakit, terbaring lemah dan di tubuhnya melekat jarum-jarum panjang, membuat hati saya menjerit. Sering saya berpikir untuk bisa berpindah tempat, saya saja yang menerima rasa sakit itu. Saya tidak rela melihat anak-anak saya mengalaminya.
***