Pernah lihat iklan salah satu produk susu di televisi yang jingle-nya lagu You’re The First, The Last, My Everything-nya Barry White? Pada iklan itu digambarkan tentang seorang ibu yang kerap mendapat surprise dari anaknya, berupa ungkapan cinta dan sayang dengan berbagai bentuk.
Pernahkah Anda membayangkan berada pada posisi sang ibu? Atau mungkin Anda sudah biasa mengalami hal yang sama?
Bagaimanakah rasanya? Tentu bahagia, bukan?
Kira-kira 3 hari yang lalu, seperti biasa saya pulang kerja larut. Sekitar jam 22.00 wita baru sampai di rumah. Seperti biasa pula anak-anak sudah tidur ketika saya pulang. Hari itu begitu tiba di rumah, saya langsung cuci tangan, kaki dan wajah serta berganti pakaian. Usai melakukan ritual pulang kerja tersebut, saya melanjutkan dengan ritual berikutnya yaitu membersihkan wajah.
Tiba di depan meja rias, ada selembar kertas putih. Tempat sulung saya, Naufal biasa corat coret, mengambar sesuai hobby-nya itu. Tidak aneh melihat kertas-kertas berserakan di rumah atau melihat lantai rumah penuh dengan hasil kreatifitasnya yang tak pernah berhenti setiap harinya.
Lembaran putih di atas meja rias itu saya abaikan. Biasanya langsung saya kumpulkan ke sebuah amplop kumpulan gambar anak saya. Namun rasa lelah memaksa saya untuk langsung istirahat.
Esoknya pagi-pagi begitu saya bangun, tak sengaja saya perhatikan gambar pada kertas yang masih berada di posisi semula sejak tadi malam. Mirip sebuah surat. Judulnya tertulis “UMMIKU SAYANG” dengan huruf kapital semua. Di bawahnya terdapat gambar seorang wanita berjilbab. Disamping gambar tersebut ada gambar setangkai bunga. Disekeliling kedua gambar tadi ada beberapa gambar hati. Kemudian di bagian terbawah kertas ada keterangan kecil bertanda panah, bertuliskan: Berhadiah Kaos Kaki. Cari di Atas.
Saya tersenyum geli sekaligus haru. Tepat di atas kertas tadi memang terdapat kaos kaki, milik saya, bekas dipakai Azmi anak kedua saya.
Semua tampak sederhana bagi kacamata orang dewasa seperti kita. Hanya selembar kertas biasa, bahkan tidak seindah yang dibuat si anak dalam tokoh iklan susu di televisi.
Setelah Naufal terbangun, kami terlibat sebuah percakapan.
Saya : Aa, makasih ya (sambil memperlihatkan helai kertas berisi coretan tangannya).
Naufal : (tersenyum sambil menahan kantuk seusai shalat shubuh) Ummi seneng ya?
Saya : Iya. Aa hebat ya, bisa bikin beginian.
Naufal : Aa kan sayang sama ummi. Tau nggak segimana?
Saya : Segimana?
Naufal : Setinggi langit.
Saya : Kalau ummi sayang Naufal setinggi dua langit.
Naufal : Aa juga dua langit.
Saya : Ummi tujuh langit.
Naufal : Aa juga. Berarti kita sama ya, Mi. Saling menyayangi.
Saya : Iya. Makasih ya.
Naufal : (tersenyum lebar, tangannya melingkari pinggang saya).
Disinilah letak kebahagiaan seorang ibu, yang tak tergantikan oleh apapun. Disini pula letak kesempurnaan seorang manusia. Merasakan sebentuk cinta kasih Allah melalui hati seorang manusia kecil, yang masih suci hatinya. Yang dituangkannya sepenuh hati pada sebuah karya sederhana, yang jika diuangkan mungkin tak sampai seharga satu sen pun. Tapi saya rela menukarkannya dengan jiwa saya untuk mendapatkan makna di dalam goresan sederhana itu.
Cinta yang akan selalu saya kenang di sepanjang usia saya. Yang tidak mungkin saya dapatkan dari orang selainnya. Begitu indah. Tulus. Murni. Dan memberikan sebuah semangat luar biasa untuk menjalani hari itu.
Terimakasih Sayangku, Cintaku. Terima kasih untuk memberikan cinta ini untuk saya. Untuk menerima saya dengan segala kekurangan dan kekhilafan yang sering saya perbuat kepadamu. Jangan pernah mengurangi kadar cinta itu. Karena cinta yang saya miliki buatmu pun tak kan berkurang dan lekang oleh waktu.
Rumah, 26 April 2010. Lewat tengah malam.
No comments:
Post a Comment