Mengenang saat-saat pengantin baru, saya merasakan uniknya pernikahan yang dilalui tanpa proses pacaran. Kami sebagai pengantin baru, yang baru saja akan mulai mengenal,mengalami masa-masa yang lucu sesaat setelah menikah.
Ta’aruf - akad
Sebenarnya saya nggak asing-asing banget sama suami. Karena kami pernah aktif di organisasi yang sama. Jadi nggak truly strange, karena sudah sering berinteraksi walaupun lewat ‘jarak jauh’. Dulu kami bernaung di organisasi da’wah Islam yang nota bene mendapatkan pembinaan intens masalah pentingnya menjaga hijab antara laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat). Komunikasi kami sebelum menikah hanya sebatas program kerja, da’wah dan pembinaan, dan dalam forum terbuka.
Jujur aja, saya sama sekali nggak pernah nyangka, apalagi sampai nge-tag, kalau ikhwan ini yang bakal jadi suami. Suer deh, apalagi saya termasuk tipe akhwat cool (kata teman-teman lho), mungkin lebih tepatnya ‘dingin’ dan nggak suka jaim dalam kondisi apapun. Jadi saat yang lain heboh, saya suka kebawa heboh dan error...dan nggak ada feminim-feminimnya banget (kata saya ini mah).
So, ketemu ikhwan manapun, ya cuek aja. Mau yang ganteng, yang sedang-sedang, yang biasa-biasa aja, apalagi yang jelek (hehe...just kidding), nggak suka dimanis-manisin (sudah manis soalnya...eiits nggak boleh protes!). Kayaknya sih kalau (pun) ada yang naksir (emang ada????!) saya nggak bakal ‘ngeh.
Saya lumayan kaget juga pas ada seorang ikhwan yang ngajakin berproses (ta’aruf maksudnya). Dan sempet ge-er juga, soalnya ikhwan ini lumayan bagus track record-nya (buat yang ngerasa, dilarang ge-er). Langsung deh saya melapor ke pol... eh ortu dan murabbiyah.
Singkatnya proses ta’aruf (yang nggak optimal juga, karena saya cukup pede sehingga nggak nyari info banyak-banyak tentang ikhwan ini) cuma berlangsung 1 bulan. Kami saat itu sama-sama sibuk dengan urusan kuliah. Saya yang sedang ko-ass, sibuk mengejar requirement’s points kasus-kasus pasien di klinik fakultas. Sedangkan do’i yang lagi menyelesaikan TA tahap akhir, konon kerjaannya begadang di lab kampusnya. Jadi urusan proses agak terpinggirkan dan let it flow aja. Lalu khitbah, dimana keluarga ikhwan datang ke rumah untuk silaturrahim, dengan full berbatik-ria, Subhanallah. Mereka langsung “menembak” saya supaya mau menikah dengan anaknya (deuu...kesannya J ).
Sempet nggak percaya (lagi) dengan prosesi itu dan malah pengen ketawa. Lucu aja.
Selang 1 bulan kemudian dilangsungkan akad (pfuih...finally. Ribet juga soalnya ngurusin tetek bengeknya, padahal cuma akad sederhana aja, yang mengundang teman-teman secara non formal).
Ba’da akad
Waktu yang ‘katanya’ bikin deg-deg-an akhirnya tiba. Saya dan suami (sudah berubah status) tinggal berdua aja. Mau ngapain...? Ngomong apa ya ntar...?
Setelah kami sholat berjamaah berdua untuk pertama kalinya, saya tinggalkan suami sendiri di kamar depan (yang dirancang sebagai kamar pengantin, dengan hiasan sederhana). Saya masuk kamar belakang (yang sebenarnya akan kita pakai, karena kamar depan cuma pura-pura jadi kamar pengantin) untuk beres-beres. Pas masuk, Masya Allah, itu kamar hancur habis karena dipakai sodara-sodara bikin markas plus jadi kamar ganti dan rias.
Jadilah pasca jadi “Ratu Sesaat”, saya berubah wujud jadi upik abu. Beres-beres kamar, ganti sprei dan bedcover, nyapu, ngepel, ngelap-ngelap and so on. Kayaknya belum ada nih penganten yang begini, hihihi. Agak lama juga saya beres-beres, pas nengokin suami di kamar depan, saya dapati dia sedang pasang muka dilipat tujuh. Bete. Karena ditinggalin dan nggak berani keluar kamar karena belum ada anggota keluarga saya yang dia kenal. Lalu saya ajak deh dia beres-beres, eh nggak ding, saya ajak pindah kamar.
Kamar sudah bersih dan wangi walaupun tanpa hiasan. Kami memang berencana menikah sederhana saja, pengen juga mengikuti sunnah Rasulullah untuk tidak melakukan hal-hal yang mubazir. Walaupun pada akhirnya sebuah pesta walimah tetap digelar karena keluarga besar kami (yang jumlahnya banyak banget) dan relasi-relasi orang tua perlu diberi tahu.
Di dalam sebuah ruang tertutup, bersama seorang ikhwan (yang sekarang statusnya suami), tetap membuat saya gugup banget. Dalam kebekuan kami diam dengan alam pikiran masing-masing, hanya sesekali lirik-lirik (penasaran ;-P ). Selama beberapa jam, sampai akhirnya dikagetkan oleh suara ketukan pintu keras dan sahutan.
“Teteh, buka kadonya yuuuk,” adik bungsu saya dengan semangatnya langsung kembali mengacak-acak kamar kami, dan dengan riangnya membuka kado-kado.
Walaupun agak gemas karena baru saja selesai bersih-bersih, tapi hati saya lega. Akhirnya kebisuan ini terpecahkan.
Masa Pacaran
Biasanya cerita pacaran itu adalah sebelum nikah, tapi bagi saya terbalik. Justru pacarannya setelah nikah. Dan asal tahu aja, itu jauh lebih asyik. Ih sok tau! Nggak koq, beneran. Coba bayangkan. Kalo orang pacaran suka ngapain? Dua-duaan kan. Abis dua-duaan pasti pingin pegang tangan. Abis pegang tangan pingin nambah. Pengen pegang bahu. Trus akhirnya peluk-pelukan. Trus udah sampe situ lanjut cium-cium, bahkan ada yang kebablasan sampe ‘tekdung’. Naudzubillah mindzaliik.
Dan kalo lagi begitu pemeran utama dalam adegan tersebut tak lain dan tak bukan adalah syetan. Nah lho! Berdasarkan penelitian dr. Ali Akbar, tahun 1986, dari respondennya yang terdiri dari mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta, diperoleh hasil 37 – 81 % dari mereka pacaran dengan melakukan pegang-pegangan tangan sampai berciuman. Sebesar 19 – 58 % selama pacaran nggak cuma pegang tangan, tapi sampe pegang bagian-bagian sensitif lainnya (ngeri ah nyebutinnya), dan sebesar 7 – 13 % melakukan hubungan intim.
Kalo kita lebih teliti lagi, coba kita lihat tahun berapa penelitian tersebut dilakukan? 1986. Bagaimana dengan sekarang, dimana arus informasi dan teknologi sudah sedemikian hebat mengekspos dan mengekploitasi aurat serta hubungan lawan jenis pra nikah yang semakin terbuka dan dilegalkan. Mungkin penelitian tadi sudah membengkak 100%.
Subhanallah, dengan menikah tak ada larangan untuk melakukan semua. Bahkan Rasul mengatakan, pegangan tangannya pasangan yang sudah resmi menikah akan menggugurkan dosa-dosa kecil keduanya. Apalagi kalo keduanya melaksanakan ibadah dan ketaatan kepada Allah bareng-bareng ya. Asyiknya lagi pacaran pasca nikah, menghindarkan diri dari fitnah luar dan kita bisa berdua-duaan tanpa khawatir digrebek satpam atau digosipin tetangga. Bener kan?
Begitu pula saya. Saya dan suami sangat menikmati masa pacaran a.k.a ta’aruf kedua alias proses saling mengenal yang belum kami lakukan sebelum menikah. Walaupun didalamnya seringkali terkaget-kaget atas kepribadian masing-masing yang baru kami lihat, tapi semua kami anggap sebagai warna-warni dalam pernikahan kami.
Tanjung, Medio September 2009
Anne Adzkia