![]() |
| sumber: internet |
Untuk sebuah cita-cita, apa sih yang harus dilakukan? Kerja keras, pastinya. Nggak mungkin dong kita tiba-tiba mau lulus ujian, tapi nggak belajar sama sekali. No pain, no gain-lah bahasa kerennya.
Trus cita-cita gue apa sih? Banyak.
Gue pernah punya cita-cita
jadi polisi, jadi astronot, pernah pengin jadi arsitek, bahkan psikolog. Tapi
di akhir-akhir, gue kepengin banget jadi dokter gigi. Alesannya? Karena gue
pengin banget jadi dokter. Keren aja, gitu. Tapi gue nggak mau sekolah
lama-lama (itu yang ada di pikiran gue saat itu). Jadi berangkat dari alasan
tersebut, gue milih jurusan kedokteran gigi, supaya bisa dapet titel dokter,
tapi tanpa sekolah kelamaan.
Belakangan gue baru nyadar, apa yang ada di pikiran gue tentang sekolah kedokteran gigi ini ternyata salah besar. Nanti gue ceritain.
Belakangan gue baru nyadar, apa yang ada di pikiran gue tentang sekolah kedokteran gigi ini ternyata salah besar. Nanti gue ceritain.
Sekarang masih tentang mengejar cita-cita. Saking ngebulnya
pengin lulus UMPTN, gue giat belajar di akhir masa SMA. Asal kalian tau aja,
gue bukan tipe anak sekolah yang rajin. Pe-er aja gue nggak pernah ngerjain.
Ranking di sekolah nggak pernah beranjak dari angka kepala 2. Gue lebih giat
rapat di Sanggar Pringgondani (sanggar Pramuka SMA gue), atau rapat OSIS, atau
latihan Teater. Makanya gue disayang guru, alias sering kena setrap.
Demi sebuah cita-cita, gue rela melepas semua jabatan dan
aktivitas yang bikin gue nyaman (catatan lagi, sanggar pramuka yang bau apek
itu lebih bikin gue betah lho. Suer. Gue juga heran). Gue rela berakrab-akrab
(kembali) dengan buku latihan soal ‘Sukses Menembus UMPTN’. Majalah Gadis dan
novel Lupus, Lulu, dan Pasukan Mau Tahu gue umpetin dulu. Konsen…dan konsen.
Gue emang kepingin kuliah di Universitas Negeri. Bukan
kenapa-kenapa. Ortu gue bukan orang kaya yang mampu ngeluarin uang jutaan
rupiah (saat itu masih dalam hitungan jutaan doang, dan udah termasuk mahal
banget) buat biaya kuliah. Jadi kalau mau kuliah, apalagi kedokteran gigi yang
katanya perlua uang buat beli alat-alat praktikumnya lumayan gede, gue kudu nembus
UMPTN. Dan pilihan utama gue adalah Universitas Padjadjaran Bandung, yang juga
kota kelahiran gue.
Malam-malam di tahun terakhir SMA gue isi dengan belajar.
Konsentrasi adalah catatan penting buat gue. Meski nggak terus-terusan belajar
juga sih. Gue masih sempet kok nonton Thio Bu Ki di Tho Liong Tho, atau
jalan-jalan ke mall bareng sohib-sohib gue. Tapi sesekali aja, kalo kepala
mulai mumet.
Oya, selain belajar di rumah, gue juga ikut bimbel. Nah,
kalo yang ini sih karena gue kena magnet temen-temen aja yang pada daftar
bimbel semua. Guenya sebenarnya ogah. Tapi demi keutuhan bangsa, gue merasa
wajib ikutan daftar.
Bimbel ini baru gue sadari manfaatnya setelah gue ikut
program intensifnya. Gak jadi pinter-pinter amat sih, tapi paling nggak gue
merasa lebih siap mental. Siap kalo ternyata gue nggak lulus, gitu. Kalo lulus
sih udah pasti siap, ya.
Jadi ini petikan tulisan singkat gue (singkat banget sampe
permen di mulut masih tebel, tulisan ini udah abis dibaca) sebagai pendahuluan.
Selanjutnya gue akan banyak bercerita kenapa gue bener-bener tertarik kuliah di
kedokteran gigi. Apa sih khayalan-khayalan gue tentang profesi dokter gigi
nantinya. Juga ada fakta-fakta (ada yang asyik, tapi banyak juga yang
mengerikan) tentang kehidupan kampus gue.
Terus ikutin postingan-postingan baru di blog ini ya. Blog yang baru lahir, karena penulisnya baru kepikiran ide buat nulis disini. See ya soon, guyz…
@anneadzkia, August 2012

No comments:
Post a Comment