| Rating: | |
| Category: | Books |
| Genre: | Nonfiction |
| Author: | Christine Gleason, MD. |
Dari beberapa lembar di bab awal saya menemukan kisah beberapa orang bayi, diantaranya prematur dan yang lainnya adalah bayi mature, atau full-term born baby, atau bayi lahir cukup bulan, yang terlahir dalam kondisi membawa kelainan kongenital (bawaan sejak lahir) atau mengalami gangguan saat persalinan sehingga menimbulkan gangguan pada salah satu atau beberapa fungsi organnya.
Ada pula anak-anak yang awalnya terlahir sehat, atau mungkin diduga sehat padahal mengidap kelainan bawaan, atau memang sejak lahir terus bolak-balik ke rumah sakit untuk dirawat, yang berjuang untuk penyakit mereka. Ada yang berakhir sehat, tak sedikit yang berujung kematian.
Beberapa catatan berhasil saya tangkap dan tuliskan dalam halaman microsoft word saya, dimana saya melihat dari berbagai sisi manusia yang terlibat di dalamnya, yang kesemuanya ternyata berhubungan dengan realita dalam kehidupan saya pribadi.
Sisi pertama: DOKTER
Dalam hal ini adalah Christine Gleason, MD., penulis sekaligus tokoh sentral dalam buku ‘spektakuler’ (kalau boleh saya menyebutnya begitu) ini.
Perjuangannya menyelamatkan jiwa-jiwa kecil yang baru saja lahir ke dunia sungguh merupakan perjuangan luar biasa. Saya menyebut mereka jiwa yang baru lahir, karena semuanya masih sangat muda, jauh dibanding saya.
Secara umum, seorang dokter yang sungguh-sungguh menjalankan profesi, di tangannya banyak nyawa manusia bergantung. Mereka datang ke Rumah Sakit atau tempat praktik seorang dokter karena ke-awam-an mereka terhadap kondisi yang dialami si sakit tersebut, mungkin anak, suami, istri, orang tua, kerabat atau dirinya sendiri. Harapannya diserahkan pada dokter, yang dianggap mampu meringankan, menyembuhkan bahkan menyelamatkan hidup si sakit.
Seorang dokter, dengan kelebihan ilmu yang dimilikinya sedapat mungkin menangani beragam kasus dihadapannya. Semua bukan semata demi honorarium yang akan dia peroleh, namun demi rasa kemanusiaan menolong sesama.
Memang begitulah seharusnya.
Walaupun terkadang sisi kemanusiaan seorang dokter seringkali juga diabaikan oleh pasien-pasiennya. Misalnya bahwa dokter juga manusia yang tak luput dari alpa dan dosa; dokter juga membutuhkan istirahat, hak tubuhnya agar pikirannya kembali segar sehingga lebih optimal menangani pasien; dokter juga butuh dihargai, bahwa disaat dia sedang melakukan tugasnya, berhak tidak diganggu atau dirusak konsentrasinya. Serta hal-hal lain yang berhak didapatkan dokter.
Namun saya juga tidak menafikkan jika pada kenyataannya banyak juga dokter “abal-abal” yang merawat pasien hanya demi uang. Tidak mempunyai empati dan tidak sesuai dengan standar profesi serta melanggar sumpah jabatan mereka.
Na’udzubillah mindzaliik. Mudah-mudahan saya tidak termasuk yang demikian.
Kembali pada dokter Gleason dengan pasien-pasiennya. Beliau dengan naluri kemanusiaan berusaha mengungkapkan serentetan tanggung jawabnya sebagai seorang residen Pediatri dalam menangani berbagai kasus yang kadang benar-benar baru dia temukan saat itu. Betapa hatinya juga bekerja mengikuti bahasa tubuh dan kerja otaknya. Hingga tak jarang dia menangis tersedu-sedu atau bahkan ingin melarikan diri dari profesinya. Sungguh menyentuh hati.
***
Dokter, profesi yang oleh beberapa orang masih dianggap sebagai “Dewa”, yang dianggap orang pintar (dalam arti sebenarnya). Mampu mengusir “masalah” dari tubuh manusia (teringat cerita Mr. Bean yang mendatangi klinik dokter untuk membuka teko yang menyangkut di pergelangan tangannya... memangnya dokter punya gergaji atau peralatan pertukangan???). Yang tak boleh melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Sebab sebuah kesalahan berarti tindakan malpraktik, yang berujung di meja hijau.
Sekali lagi saya katakan bahwa dokter adalah manusia biasa (kalau boleh dinyanyikan a’la Seurieus Band... dokter juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan si dukun saktiiiii....yeaah). Dan sebenarnya apapun profesi kita, tak hanya dokter, harus bekerja sesuai kompetensinya masing-masing. Memberikan yang terbaik, dengan satu kata kunci... i k h l a s.
Jadi teringat seorang tokoh film bernama dokter House, dalam film “House” (yang tayang di channel AXN, waktunya nggak hapal karena saya nonton film ini hanya saat menginap di hotel ;-P). Seorang dokter unik, walaupun eksentrik dan sering menuai protes rekan-rekan sejawatnya dalam menangani kasus pasien-pasiennya. Namun satu point of view yang saya suka, dokter House tidak pernah puas akan sebuah diagnosa “tanggung”. Dia akan terus mencari dan mengobservasi pasien-pasiennya secara detail, bahkan kejanggalan dalam kedipan mata pun tak luput dari perhatiannya.
Itulah mungkin yang tidak banyak dimiliki oleh dokter-dokter kita (mungkin termasuk saya..hiks), kecuali dokter rumah sakit pendidikan. Bahkan ada dokter yang merasa cukup menegakkan diagnosa hanya berbekal satu atau dua kali anamnesa saja. Dan ini pernah saya alami saat memeriksakan bayi saya ke salah satu dokter spesialis anak. Meski pengetahuan saya tentang ilmu pediatri minim, tapi saya tidak bodoh-bodoh amat untuk bisa “dibodohi” dengan diagnosa seadanya dan pulang dengan membawa 1 botol antibiotik dan 1 botol vitamin. Padahal saya paham, kondisi anak saya tidak membutuhkan antibiotik (saat itu dia mengalami konstipasi kronis).
Mengutip sebuah bab yang saya baca dalam buku “Blink” karya Malcolm Gladwell, ada secuplik bahasan yang menarik tentang profesi dokter. Wendy Levinson, seorang peneliti bidang kedokteran, melakukan penelitian terhadap dua kelompok sampel dokter, melalui rekaman pembicaraan dokter-pasien. Levinson menemukan bahwa satu kelompok dokter tersebut tidak pernah digugat kasus hukum sedangkan kelompok lainnya pernah dituntut sekurangnya dua kali.
Dokter yang tidak pernah digugat ini ternyata mau menyediakan waktu 3 menit lebih lama untuk mendengarkan dan menjawab pasien-pasiennya. Mereka mendengar secara aktif dan banyak tertawa serta melucu selama pemeriksaan. Walau ternyata tidak ada perbedaan dalam hal mutu atau kadar informasi yang diberikan kepada pasien. Tidak juga lebih rinci soal obat atau kondisi pasien, hanya berbeda cara penyampaian informasi.
Hal ini memang penting dalam hubungan dokter – pasien, karena kadang seorang pasien “secara sugesti” langsung merasa lebih baik begitu menerima senyuman tulus tim medis yang menolongnya, atau sapaan hangat, atau tatapan penuh empati. Betul nggak?
Dan kembali pada buku 450 gram (beloknya kejauhan ya...hehe), merupakan suatu usaha cantik yang telah dilakukan dokter Chris Gleason. Meskipun pasien-pasiennya tidak bisa membalas senyumannya, belum bisa bertanya perihal penyakitnya atau mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.
Sisi kedua: ORANG TUA
Bagi orang tua manapun, excluding yang mengalami gangguan jiwa dan retardasi akhlaq, mempunyai anak adalah anugerah yang tak dapat dilukiskan oleh kosakata terindah manapun. Karena begitu, teramat, sangat luar biasanya. Menyentuh kulit mereka saat baru dilahirkan, menyusui, merawat, membesarkan sungguh merupakan pengorbanan sekaligus kebahagiaan tersendiri. Menyaksikan mereka tumbuh setahap demi setahap, langkah kaki pertama mereka, kata pertama yang mereka ucapkan, seakan tak pernah hilang dari rekaman memori orangtua sepanjang hayatnya.
Sejak si anak berada dalam kandungan, interaksi orangtua (terutama ibu) sudah dilakukan untuk membuat bayinya bahagia. Apalagi ketika bayi itu hadir dihadapan. Tak akan tergantikan oleh emas berlian seluas apapun, karena seorang anak merupakan buah cinta... bukankah cinta tidak bisa diperjualbelikan pula. Saat anak kita lahir, seperti apapun rupanya, secantik atau seburuk apapun penampilannya, tak akan menyurutkan cinta kasih orangtua.
Sebagian kisah dalam buku ini, melukiskan perjuangan orangtua yang dihadapkan pada kondisi bahwa anaknya terlahir diluar harapan. Ada yang terlahir prematur, dimana organ tubuhnya belum sempurna fungsinya untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan selain rahim ibunya. Akhirnya si buah hati yang sejatinya ingin langsung berada dalam dekapan, disusui sepuas mungkin, dibelai kelembutannya, semua pupus sudah. Karena bayi itu harus langsung masuk ruang isolasi dalam Neonatal Intensive Care Unit (NICU), yang hanya bisa disentuh melalui lubang kaca inkubator. Belum lagi daftar penyakit yang mengancam hidupnya.
Para orangtua ini dipaksa menyaksikan bayi-bayi merah mereka menerima infus, suntikan beragam obat-obatan, spinal tap/lumbar puncture (penusukan tulang lumbar/ruas-ruas tulang belakang, untuk mendapatkan contoh cairan tulang belakang), suprapubic bladder tap (penyedotan urine langsung dari kandung kemih), resusitasi (tindakan mengembalikan kesadaran) dan sebagainya.
Saya pun punya pengalaman pada kedua anak saya. Keduanya pernah dirawat di rumah sakit dan menerima infus, bahkan anak pertama saya pernah mengalami tranfusi darah saat usianya baru sebulan. Sungguh, menyaksikan tubuh-tubuh kecil yang sangat kita cintai menderita oleh penyakit, terbaring lemah dan di tubuhnya melekat jarum-jarum panjang, membuat hati saya menjerit. Sering saya berpikir untuk bisa berpindah tempat, saya saja yang menerima rasa sakit itu. Saya tidak rela melihat anak-anak saya mengalaminya.
***
No comments:
Post a Comment