Di usia menginjak 22 tahun, tepatnya setelah saya menyelesaikan program S1, keinginan itu mulai muncul. Menikah. Baru sebatas wacana dalam pikiran saya. Belum saya pikirkan mendalam karena saya pikir perjalanan kuliah saya masih panjang. Saat itu saya masih harus menyelesaikan program ko-assistensi di fakultas kedokteran gigi, yang konon akan memakan waktu lebih dari 3 tahun.
Sempat saya membangun kriteria calon suami. Calon pasangan jiwa. Yang shalih kah? Yang tampan kah? Yang mapan secara materi kah? Ternyata saya masih kebingungan. Dan kalaupun ada yang satu paket seperti itu, apakah dia mau dengan saya? Ternyata bekal saya untuk menuju pernikahan masih kosong. Berarti harus digencarkan dahulu mencari ilmunya sebelum mencari jodohnya.
Akhirnya beberapa buku saya lahap, tapi ilmu yang saya dapat bisa dibilang hanya sedikit yang menempel di kepala. Apalagi kesibukan saya sehari-hari cukup padat, hingga menenggelamkan keinginan menikah yang awalnya begitu membara itu. Jadinya jangankan fokus ke menambah ilmu tentang pernikahan, menyentuh bukunya pun tidak. Saya lebih semangat mencari ilmu di bidang lain.
Sampai suatu ketika, ada seorang ikhwan yang menyatakan ingin ta’aruf1. Ta’aruf? Pemahaman saya, yang saat itu baru baru bersentuhan dunia tarbiyah2, tentang proses menuju pernikahan masih sangat dangkal. Jadi ketika tawaran ta’aruf itu datang, saya masih agak-agak kaget. Bisa nggak ya, saya menikah dengan cara begini, dengan calon suami yang belum saya kenal sebelumnya?
Masalah menikah secara Islami bukan saja membuat saya khawatir akan diri saya sendiri, tapi juga bagaimana mengomunikasikannya pada kedua orang tua saya, yang nota bene masih belum mengerti dengan model pernikahan seperti ini, yang tanpa melalui proses pacaran.
Akhirnya pelan-pelan saya jalani. Dan Alhamdulillah…. proses ta’arufnya gagal. Lho kok Alhamdulillah…? Ya, saat itu saya bersyukur. Saya ingat kata-kata bijak yang mengatakan ‘semua akan indah pada waktunya.’ Dan saya rasa ini bukanlah waktunya. Saya harus menggali ilmu lebih dalam lagi. Belajar dan belajar!
Proses pembelajaran tentang pernikahan dengan segala seluk beluknya ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Tidak bisa diukur dari berapa banyak buku yang bisa saya khatamkan, tidak bisa dinilai dari seberapa sering saya menghadiri ceramah dan kajian fiqih pernikahan. Hingga ketika akhirnya saya menikah 3 tahun kemudian pun, saya tetap merasa ilmu saya di bidang ini sangat sedikit. Apalagi tentang memahami karakter manusia, digaris bawahi pada kata: suami.
Akhirnya saya menikah pada usia 25 tahun. Saat itu saya belum lagi lulus ko-ass. Begitu juga suami, baru saja menyelesaikan sidang Tugas Akhir-nya, yang berarti belum ber-maisyah3 tetap. Awal-awal pernikahan, namanya juga pengantin baru, semua tampak sempurna. Menikah dengan proses yang baik, cara yang baik, visi misi dan tujuan yang baik. Meskipun menikah dengan ikhwan yang belum saya kenal kepribadiannya dan dengan ilmu saya yang belum banyak pula, saya percaya dan yakin aja bahwa kami akan bisa menjalani bahtera ini,.
Tahun pertama pernikahan, saya beri judul ‘Pacaran’. Karena kami tidak melalui proses ini sebelum menikah. Mulai menginjak tahun kedua, masa-masa pengantin baru yang manis dan tanpa masalah, perlahan-lahan berubah. Karakter masing-masing mulai tampak. Kerikil-kerikil kecil mulai bermunculan ke permukaan. Ternyata apa yang saya bayangkan tentang ikatan bernama pernikahan tidak seindah dan semudah seperti dalam kisah-kisah romantis a’la Meg Ryan atau Richard Gere. Ya memang, bahkan Rasulullah pun pernah ribut dengan istri-istrinya. Ribut dengan cara Rasulullah tentunya. Tidak bisa dibandingkan dengan ribut cara kami.
Masalah yang sering jadi bahan keributan padahal sangat sepele, dan kalo saya ingat-ingat lagi sekarang, rasanya garing abis n nggak penting banget. Ribut hanya gara-gara baju kotor yang disimpan bukan pada tempatnya bisa membuat saya nangis seharian. Nggak ditelpon dalam waktu 12 jam bisa membuat saya bete habis-habisan. Dan masih banyak hal-hal remeh lain yang jadi bahan ‘perang dingin dan panas’.
Belum lagi urusan berdua selesai, satu bulan sebelum our first anniversary, saya melahirkan anak pertama. Hadirnya satu anggota keluarga baru berarti harus ada ilmu baru yang ditambah. Apalagi ini urusan anak. Yang sudah jelas merupakan hal baru dalam dunia kami. Dan nggak bisa sembarangan pula menjalankannya. Berbagai ilmu dari buku maupun sumber lain saya cari. Informasi A – Z tentang mengasuh dan mendidik anak.
Apakah saya menyesal telah menikah? Alhamdulillah tidak. Ternyata dibalik semua dinamika yang terjadi dalam pernikahan, nilai kebahagiaan yang saya dapat jauh lebih banyak dari kesulitan yang dialami. Memiliki seorang suami shalih dan pengertian telah membawa saya menjadi manusia yang lebih baik. Memiliki anak yang shalih, sehat dan cerdas telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa dan tak ternilai dalam bilangan.
Hari ini, di tahun ke-enam pernikahan, ditambah dengan hadirnya dua orang jundi dan jundiah anak-anak kami, saya tetap berpegang pada satu hal penting. Bahwa memahami orang-orang yang dekat dengan diri kita tidaklah semudah yang dibayangkan dan membutuhkan energi besar yang berkelanjutan. Bahwa ilmu tentang pernikahan tak akan ada habisnya untuk digali. Keluarga adalah madrasah kehidupan, bukan hanya untuk anak-anak kita namun juga untuk seluruh anggota keluarga.
Menikah bukanlah akhir dari pencarian pasangan jiwa, karena ada hal penting berikutnya yang harus dilakukan yaitu penyatuan kedua jiwa. Menyatukan jiwa dengan pasangan kita bagaikan menyusun puzzle yang kepingan-kepingannya berasal dari jiwa kita dan pasangan kita. Tidak akan mudah pada awalnya karena kadang kepingan yang kita miliki tidak persis cocok dengan kepingan pasangan kita, namun dengan kesabaran dan ilmu yang kita miliki maka lambat laun puzzle tersebut akan terbentuk dalam perpaduan dua jiwa yang indah dan saling melengkapi.
Happy anniversary... Moga selalu diberikan kebahagiaan dan cinta oleh Allah... Amin.. :)
ReplyDeletejadi inget pulang kul kondangan anne..acara udah berakhir..gw masih nyimpen fotonya ne..
ReplyDeletesekalian kunjungan balasan, sekalian bernostalgia...
ReplyDelete